Smirna adalah salah satu guru di Papua tapi juga di Indonesia sejak lulus kuliah, menjalani kehidupan lintas budaya.
Pengalaman itu membentuk kepribadiannya serta tertanam dalam dirinya. Tapi juga menjadi bekal berharga dalam menghadapi berbagai tantangan sebagai guru.
Smirna mengawali karir mengajarnya pada 2008, di Yayasan Pelayanan Papua. Ia memulai pelayanan di yayasan itu setelah menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih.
Smirna ditawarkan untuk menjadi seorang guru, karena saat itu Yayasan Pelayanan Papua masih membutuhkan tenaga guru.
Awalnya, Smirna mengakau ragu karena ia tidak mempunyai basic di bidang pendidikan sebagai guru, tetapi kemudian ia menguatkan tekadnya untuk menjadi guru.
Sejak 2009 itu, Smirna mengajar di daerah Momuna, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, setelah mengikuti training.
“Saya menjalani training pendidikan sebelum mengajar, training selama 6 bulan di Malang dari 2008 - 2009, setelah selesai baru saya berangkat ke Yahukimo untuk mengajar,"kata Smirna di ruang kerjanya, Jumat (2/2/2024) malam.
Pertama kali mengajar, kata Smirna, ia dan guru-guru lainnya sempat mengalami penolakan dari masyarakat, karena mereka belum mengerti dan mencurigai mereka hendak membangun gereja baru.
"Tapi seiring berjalannya waktu, masyarakat melihat kita fokus ke pendidikan dan ekonomi, mereka lihat ada Perubahan akhirnya ada tanggapan positif dari masyarakat,"ujarnya.
Tenaga guru yang mengajar saat itu hanya 4 orang yang mengajar di sekolah dasar (SD), di antaranya satu guru SD kelas 1, satu guru SD kelas 2, satu guru taman kanak-kanak (TK) kecil, dan satu guru TK besar, ditambah satu guru pendamping.
"Fasilitas berupa buku- buku di kirim dari gereja gereja di Jawa, kami punya pimpinan yang mencari sumbangan dan donor buku lalu dikirim ke kami,"katanya.
Menurutnya, bangunan sekolah pada saat itu masih memakai Bangunan Gereja Gidi Evanistia.
"Kami para guru tinggal di Kos Kosan itu juga kerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Yahukimo,"ujarnya.
Dia mengaku, luar biasa pengalaman mengajar pada saat itu, karena Kabupaten Yahukimo baru pemekaran dan masih jalan setapak.
"Jadi anak anak ke sekolah Juga kadang belum mandi, kita harus kasih mandi, baju juga kita harus bantu cuci,"ujarnya.
"Bagi saya, menjadi guru sama dengan berkarya, karena setiap murid selalu istimewa,"kata perempuan berkacamata itu.
Menurut Smirna, pola pikir mereka juga masih sangat sederhana dan terbatas, Sifat dan Karakter dari anak anak dan daya tanggap masih sangat lambat, tetapi mereka punya keinginan untuk berkembang sangat besar.
"Jadi, yang kita bangun itu mindsetnya. Hanya kadang-kadang terbentur dengan budaya dari orang tua,"ujarnya.
Lanjut dia, lantara di tahun itu orangtua membawa anaknya untuk mencari ke hutan, hampir tiga bulan lamanya berada dihutan.
"Jadi, kita sudah ajar membaca tetapi karena terlalu lama di hutan mereka lupa lagi apa yang diajarkan,"katanya.
"Tetapi Puji Tuhan, karena saya bisa melihat buah dari kerja keras saya, anak anak yang saya didik sudah besar, ada yang jadi polisi, jadi ajudan bupati. Saya terakhir pergi tahun lalu sekitar Agustus 2022, saya merasa bersyukur Tuhan menjawab hasil kerja keras saya,"ujarnya.
Satu hal yang luar biasa dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo adalah mereka mengerti kalau mereka punya tujuan untuk mengembangkan pendidikan.
"Jadi, ada banyak hal dan perhatian dari pemerintah setempat pada saat itu mereka luar biasa, tidak hanya bicara tapi langsung kerjakan,"katanya.
Smirna berharap pemerintah mempunyai perhatian khusus untuk sekolah swasta dan jangan memandang sebelah mata. Bahkan rata-rata kualitasnya lebih baik.
Kontribusi untuk Sekolah Yayasan Kristen perlu diperhatikan oleh pemerintah dan mungkin dana bantuan operasional sekolah (bos) juga bisa diperhatikan dengan baik.
“Terkadang dana bos tergantung dari jumlah siswa, tapi kalau menurut saya jangan bergantung dari jumlah siswa, kalau bisa dari kualitasnya kenapa tidak dikembangkan,"ujarnya.
“Jangan sia-siakan kesempatan yang ada, oleh sebab itu manfaatkan sebaik-baiknya. Kapan lagi ada perubahan, jangan sampai teknologi semakin maju tapi pendidikan semakin menurun,"tambah dia.
Editor : Musa Abubar