Setiap warga jemaat yang mengikuti ibadah datang dengan menggunakan baju adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Hal ini bertujuan untuk mengenalkan betapa kayanya budaya di Indonesia, sekaligus untuk mempersatukan suku dan ras yang berada di Jemaat GKI Siloam Waena.
Sri salah warga Jawa, mengatakan pakaian adat dari Pulau Jawa disebut Surjan untuk laki-laki, sedangkan kaum wanita adalah kebaya.
"Surjan memiliki arti sebagai batas antara kebaikan dan keburukkan,"kata Sri di Gereja Siloam Waena, Senin.
Mantaria, salah satu warga jemaat asal Batak mengatakan pakaian adat Batak terbuat dari kain Ulos atau kain tradisional. Sedangkan ulos memiliki arti sebuah ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak.
Lenny, salah satu warga Toraja menjelaskan baju Pokko adalah pakaian adat Toraja, biasanya dipadukan dengan hiasan manik-manik (kandore dalam bahasa Toraja).
Lanjut Lenny, adapun sebutan sarung untuk wanita dalam bahasa Toraja disebut dodo, sedangkan untuk pria sambu.
"Baju adat Toraja memiliki makna simbolik yang melambangkan stratifikasi sosial orang yang memakainya,"ujar Lenny.
Gustin, warga Sangihe mengatakan Laku Tepu (Baniang) adalah pakaian adat khas suku Sangihe. Untuk perempuan biasanya dipadukan dengan Bandang (Selempang) dan Boto Pusige (Sanggul yang terletak diubun-ubun). Lalu untuk laki-laki dilengkapi dengan Paporong (Ikat Kepala).
"Laku itu artinya baju sedangkan tepu memiliki arti agak sempit. Jadi Laku Tepu dimaksudkan baju yang bagian lehernya agak sempit,"kata Gustin.
Thopianus, warga Ambon menjelaskan, pakaian adat Ambon beragam, ada yang disebut baju cele, kebaya dansa dan baniang. Baju Cele biasa dipakai oleh masyarakat Ambon pada acara adat. Sedangkan Kebaya dan Baniang khusus dipakai oleh Raja dan Saniri Negeri.
Hendrie, warga Minahasa menyebut,
pakaian adat orang Minahasa biasanya disebut Karai untuk laki-laki dan Wuyang untuk perempuan. Selain itu ada baju adat yang disebut Kabasaran.
"Untuk karai dan wuyang biasanya dipakai untuk acara adat, sedangkan baju Kabasaran dipakai saat perang tetapi sekarang dipakai sebagai kostum tarian,"ujarnya.
Sementara itu, Etty, salah satu warga Papua mengatakan pakaian adat Papua hampir semua menggunakan kain dada dan rok rumbai. Tetapi suku Biak dan Waropen memakai kain dari dada sampai tumit.
Namun tak semua menggunakan pakaian adat, tambah dia, warga jemaat lain yang tidak memiliki pakaian adat, mereka menggunakan baju nuansa batik dengan berbagai motif dari daerah mereka.
Editor : Musa Abubar