Demikian disampaikan Direktur YGGP Amoye Pekei diruang kerjanya, Jumat (2/2/2024).
Amoye menjelaskan yayasan yang dipimpinnya berdiri karena adanya Gereja Bethel Indonesi (GBI) yang memulai pelayanan dari persekutuan kecil di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Menurutnya, pelayaan kali itu dilakukan dalam rumah. Kemudian sekitar 1998, persekutuan ini mulai bertumbuh dan berkembang sangat pesat.
"Sehingga GBI datang dan memberikan surat, karena persekutuan ini sudah banyak anggota, barulah didirikan gereja dan diberikan nama Jemaat GBI Golden Gate,"kata Amoye.
Namun seiring berjalannya waktu, kata dia, 25 tahun kemudian gereja ini pamit dari GBI dan mendirikan senode sendiri.
Mereka meminta persetujuan dari beberapa sinode gereja lokal di Papua yaitu Sinode GKI, Sinode GIDI dan beberapa sinode lainnya untuk mendirikan sinode baru.
Amoye mengetakan di 2023 Gereja Golden Gate mendeklarasikan diri sebagai gereja lokal yang mandiri, serta memiliki satu sinode di Tanah Papua. Tahun ini Gereja Golden Gate bakal melaksanakan siding sinode pertama.
Dengan semangat dalam pelayanan gereja ini, menurut Amoye, mendirikan Yayasan Golden Gate Papua pada 2019 sebelum gereja ini berdiri sendiri, dengan sumber daya apa adanya.
Lalu, pada 2022 Yayasan ini pun disahkan secara hukum dan memiliki Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) yang jelas.
"Program-program kami, ada Bidang Pendidikan, Sosial, Kesehatan, Ekonomi dan Agama,"ujar Amoye.
Menurutnya, semua bidang ini menjalin kesepakatan kerja sama (MoU) dengan Lembaga Perkumpulan Mahasiswa dan Alumni Kristen (Pelita) Papua.
Contohnya, bidang sosial bekerja sama dengan bidang pendidikan. Anak-anak jalanan diberikan Pendidikan gratis melalui program mobile school Pelita.
"Pada prinsipnya program-program ini bersifat kerja sama dengan Pelita, semua program kami sudah berjalan baik, namun kesehatan yang masih perlu ditingkatkan,"katanya.
"Program unggulan kami adalah Pendidikan, karena Pendidikan sangat penting bagi Papua, baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal,"ujarnya.
YGGP telah mendirikan satu Sekolah Menengah Atas (SMA) Golden Gate di Merauke, Provinsi Papua Selatan.
"Pendidikan di sekolah ini, kami bangun kurikulumnya bersifat penginjilan,"katanya.
Semua yang masuk disekolah ini, kata Amoye, harus memiliki kepastian keselamatan.
Selain itu, tambah Amoye, dalam pendidikan disekolah ini, pihaknya juga membangun skil dan pengetahuan siswa-siswi dibidang ekonomi.
Editor : Musa Abubar