Sekretaris Cross Border Evangelis Mission (CBEM), Louis Kobak mengatakan pelayanan lintas batas merupakan salah satu program Pelita Papua.
Menurut dia, pelayanan ini dilakukan untuk menjangkau masyarakat yang tidak mampu, tapi juga menjangkau anak-anak jalanan dalam penginjilian, dan bertujuan untuk memenangkan jiwa.
Louis menyebut, motto pelayanan lintas batas yakni "karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahulah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman," terdapat dalam injil Matius 28:19-20.
“Pelayanan lintas dirintis sekitar 2018, tapi baru bisa berjalan di 2020,"kata Louis Kobak di Mission House Tanah Hitam, Abepura, Kota Jayapura, Jumat (2/2/2024) malam.
Dalam program pelayanan lintas batas, kata Louis, ada pelayanan penginjilan dan bernaung dibawah wadah Close Border Evangelis Mission. Pelayanan lintas batas dilakukan dua kali dalam sebulan, diawal dan akhir bulan.
"Program-program Cross Border Evangelis Mission ini lebih difokuskan pada penjangkauan, dan pembaptisan. Disitu memenangkan jiwa kemudian kita baptis,"ujarnya.
"Sampai saat ini kami melayani di perbatasan Papua New Guinea (PNG), lalu kami ke Arso Timur,"katanya.
Pelayanan di Arso Timur itu, kata Louis, dilakukan dibeberapa kampung yang ada disana, di antaranya Kampung Sangke dan Kufu, kami memulai penginjilan didua kampung ini pada 2021,"ujarnya.
Louis menjelaskan, didaerah perbatasan antara Indonesia dan Papua New Guinea (PNG) rata-rata penduduk disana menjadi korban/kurang mendapat perhatian dari pemerintah baik Pemerintah Indonesia maupun PNG.
Untuk itu, Pelita Papua hadir untuk memberikan pendidikan bermutu serta melakukan pelayanan firman Tuhan melalui program-program yang sudah disusun.
“Penginjil yang dilibatkan sekitar 3-4 orang saja, tapi kami juga sering mengundang para penginjil-penginjil dari gereja-gereja lain untuk ibadah bersama,"katanya.
Menurutnya, penginjil yang biasa diundang dari Gereja Kristen Injili (GKI), ada juga hamba-hamba Tuhan dari Gereja GIDI, dan Gereja Baptis.
"Kami mengajak para hamba-hamba Tuhan dari gereja itu untuk beribadah dengan mereka,"ujarnya.
"Selain melakukan program penjangkauan di kampung-kampung, kami juga punya program Kios Pelita Papua, Website Pelita Papua, Kelas Menulis dan Organisasi,"katanya.
"Program Paud Pelita Papua, Mobile School Pelita Papua, dan Persekutuan Doa dan Puasa,"ujarnya lagi.
Selain itu, menurut dia, pihaknya melakukan kunjungan dan pelayanan penginjilan kepada para narapidana dan tahanan di penjara yakni di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Doyo Baru, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.
"Kami sudah dua kali melakukan pelayanan penginjilan di Lapas Doyo Baru, Sentani,"katanya.
Louis menyebut, alasan pelayanan di Lapas Narkotika Doyo Baru karena rata-rata narapidana dan tahanan didaerah perbatasan yaiyu dari negara tetangga yakni PNG.
Pelita juga melayani anak-anak terlantar dijalanan atau anak-anak pengisap lem aibon di Kota Jayapura.
"Kami juga melakukan kunjungan-kunjungan ke rumah sakit untuk melakukan pelayanan,"ujarnya.
Selain pelayanan penginjilan, menurut dia, Pelita juga melakukan bimbingan bisnis kepada masyarakat baik usaha peternakan dan usaha-usaha lainnya. Ada juga tutor/pemandu yang diundang untuk belajar bersama.
Louis menambahkan, Pelita Papua hadir karena penginjilan lintas batas, meskipun tak ada sponsor dari gereja maupun dari manapun. Pelayanan ini merupakan inisiatif sendiri dari tim pelayanan lintas batas.
Editor : Musa Abubar