SMA Golden Gate Merauke didirikan oleh Yayasan Golden Gate Papua (YGGP), berkantor di Tanah Hitam, Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua.
Hal itu disampaikan Manager Keuangan dan Bisnis YGGP, Keterina Indey ketika diwawancarai diruang kerjanya, Sabtu,2 Februari 2024.
Keterina menjelaskan, yayasan itu memiliki 3 program yakni dibidang ekonomi, pendidikan dan sosial.
Khusus bidang ekonomi, kata dia, sebenarnya sudah ada di 2019 sejak yayasan ini berdiri dan bermitra dengan organisasi Perkumpulan Alumni dan Mahasiswa Kriten (Pelita) Papua.
Yayasan bermitra dengan Pelita karena organisasi itu memilki pekerja yang sama visinya dalam menjalakan program ekonomi.
Keterina menyebut, program ekonomi yang dijalankan di antaranya koperasi digabungkan artinya mitra yang menjalakan program yayasan membantu dana tetapi tidak secara full.
Pengurus Yayasan Golden Gate Papua termasuk bagian dari program KTB-UKM
"Yang masuk dalam program ini saya, kemudian Frans Indey selaku konsultan bisnis, dan Friska Deda selaku kasir pengeluaran uang,"kata Keterina.
Program KTB-UKM ini, menurut dia, diterapkan di SMA Golden Gate di Merauke. Sekolah itu didirikan oleh YGGP pada Februari 2022 lalu.
Dia mengatakan, penerapan program itu sesuai visi sekolah itu yakni unggul dalam mutu, cerdas, mandiri, sehat, teguh dalam iman kekristenan, ilmu dan pelayanan, mengembangkan potensi diri bermanfaat bagi bangsa.
Lanjut dia, program KTB-UKM masuk kegiatan extrakurikuler sekolah dengan tujuan pengembangan skill pada diri siswa.
"Saat ini program itu bergerak dibidang pertenakan dan pertanian sebagai dasar dalam usaha kecil menengah,"ujarnya.
"Tapi juga, siswa disana bisa dibekali jadi mereka lulus dari sekolah ada dasar yang bisa dipergunakan ketika tidak melanjutkan ke perguruan tinggi,"katanya.
Setelah lulus sekolah, menurut dia, siswa juga bisa menjadi seorang wirausaha dan mengelolah bisnis mereka sendiri dimulai dengan belajar pertenakan dan pertanian.
Keterina menjelaskan, untuk pertenakan, pihak sekolah memelihara babi. Anak babi ini diperoleh dari pengadaan yayasan yang dibeli di Merauke.
Anak babi yang dibeli sebanyak 2 ekor dengan harga per ekor Rp 1 juta, diumur 1 tahun, kedua anak babi tersebut berwarna hitam dan masih kecil. Pertenakan babi ini dibuka pada masa studi Semester II pada Juli tahun 2022.
"Pemeliharaan pertenakan babi di Merauke punya tim yang terdiri dari 2 orang guru yaitu Maria Novita Yeet, dan Matheus Melkianus Lobwaer,"ujarnya.
Keduanya, menurut dia, yang membawahi KTB-UKM,dan diberikan tugas dan tanggung jawab untuk tiap harinya mengontrol siswa dengan membuat jadwal bagi para siswa membersihkan kandang dan memberi pakan (makanan) anak babi.
"Kebutuhan pakan (makanan) anak babi ada yang dibeli dan diolah sendiri. Melalui sumbangan dari guru-guru dan yayasan,"katanya.
Tetapi siswa juga diajarkan untuk tidak berharap ke pemberian dalam bentuk dana dari orang lain tapi bisa mandiri mengelolah.
Misalnya, dari yayasan tidak memberikan dalam bentuk dana, guru-guru punya inisiatif sendiri untuk menyiapkan pakan (makanan), pengeluaran setiap bulan itu kurang lebih Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.
Ia menyebut, hingga kini belum ada pemeriksaan dan suntik vaksin. Pihak sekolah sementara masih merencanakan kerja sama dengan Dinas Pertenakan Merauke supaya anak babi bisa mendapatkan pakan (makanan) dan suntik vaksin.
"Hanya belum terealisasi masih dalam perencanaan. Kedua anak babi tersebut sekarang dalam keadaan sehat,"ujarnya.
Menurut dia, selain belajar bertenak siswa juga diajarkan tentang pertanian.
"Jadi peternakan babi ini yang usulkan dari pihak sekolah dan siswa, bukan dari yayasan,"tambah dia.
Editor : Musa Abubar