Hal itu disampaikan Pendeta Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Silom Waena, Kota Jayapura, Papua, Yosina Redjauw dalam khotbahnya saat memimpin Ibadah Sengsara ke-I Tuhan Yesus, Minggu (11/2/2024) pagi pukul 09.00 WIT.
Yosina juga mengajak Jemaat belajar hidup seperti Ayub yang tetap tekun dan percaya kepada Tuhan dalam setiap penderitaan.
Tema yang diberikan dari Sinode pada Ibadah Minggu Sengsara ke-I yaitu Kesengsaraan yang Membawa Perdamaian, dengan pembacaan Alkitab terambil dari Ayub 10:1-22.
Yosina menjelaskan, adanya tiga pembelajaran dari Ayub ketika mengalami penderitaan dalam pembacaan tersebut agar Jemaat mencontohinya.
Pembelajaran pertama, Yosina mengatakan perbedaan penderitaan yang dialami oleh Ayub dan manusia sebagai jemaat yang hidup di zaman ini.
Ditambahkan dalam kitab 1 Korintus 10:13, bahwa setiap pencobaan yang dialami Ayub dan kita tidaklah besar dibandingkan dengan kuasa Tuhan.
"Tidak ada orang dalam dunia ini yang hidupnya jujur sama seperti Ayub. Karena hidupnya yang begitu tekun kepada Tuhan, sehingga Iblis tidak suka dan mencobai dia,"kata Yosina.
"Ayub meskipun diizinkan Tuhan untuk mengalami penderitaan, dia selalu percaya dan tekun kepada Tuhan sehingga tidak didapati kesalahan yang dilakukannya. Sedangkan kita, seringkali terjebak dan hidup di dalam dosa. Itulah perbedaan Ayub dan kita,"ujarnya.
Bagian kedua yang disampaikan oleh Yosina, yaitu kesetiaan dan ketekunan Ayub selama penderitaanya, dia ditinggalkan oleh istrinya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang disekitarnya tetapi dia tidak pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam kehidupannya.
“Ayub tetap percaya bahwa janji Tuhan Ya dan Amin, sehingga ujian yang dihadapinya akan menghasilkan ketekunan dalam hidupnya. Masa kita sebagai orang percaya mau menerima yang baik saja dari Tuhan sedangkan tidak mau menerima yang tidak baik?,"kata Yosina
“Orang yang percaya pada Tuhan akan menerima segala hal yang terjadi dalam hidup dan tekun pada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya, bahwa Tuhan akan senantiasa memberkati dan melindungi kita pada semua situasi,"ujarnya.
"Mungkin kadang apa yang kita kehendaki Tuhan belum kasih, tetapi Tuhan sesungguhnya tahu yang terbaik untuk kita," katanya.
Percaya dan selalu berharap kepada Tuhan merupakan pembelajaran ketiga yang dijelaskan oleh Yosina.
“Tuhan izinkan orang percaya mengalami penderitaan, agar kuasa Allah selalu dimuliakan dan hidup di dalam Dia. Orang yang takut akan Tuhan akan selalu melihat sisi kemuliaan Allah bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil,"ujarnya.
"Siapa yang tekun semasa hidupnya, maka Tuhan akan memperhitungkan semuanya. Iman dan hati harus selalu kuat kepada Tuhan,"kata Yosina dalam khotbah.
Ayub merasa fisiknya sudah lemah, psikisnya sudah lemah, tetapi jikalau Tuhan masih memberikan nafas kehidupan berarti masih ada kesempatan dalam hidupnya.
Yosina mengajak jemaat agar selalu tekun dan mengandalkan dalam setiap penderitaan, serta belajar mensyukuri apa yang sudah menjadi bagian kita.
“Bapak/Ibu Jemaat, jika Ayub memilih kesempatan untuk selalu percaya kepada Tuhan berarti kita sebagai orang percaya juga harus hidup dalam perdamaian meskipun banyak penderitaan,"ujarnya.
"Rancangan Tuhan adalah rancangan sejahtera. Mari untuk selalu percaya atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita kepada Tuhan dan selalu tekun,"tambah dia.
Editor : Musa Abubar