Demikian pesan yang disampaikan Wartawan Kompas.com, Roberthus Yewen saat menghadiri sekaligus menyampaikan motivasi dalam penutupan kelas jurnalistik bagi kelas jurnalistik bagi pemuda Siloam Waena di Pantai Holtekamp, Jayapura, Sabtu (10/2/2024).
Roberthus mengawali motivasinya dengan membagi pengalamannya. Dia mengaku meraih tangga sukses melalui kegagalan yang bertubi-tubi. Untuk menjadi jurnalis saja, harus berjuang mati-matian otodidak belajar dan mencoba.
Tak hanya itu, dikalahkan berulang-ulang, sampai akhirnya lewat proses itu menjadi seorang penulis saat ini.
Kadang-kadang, ada juga editor yang sedang kebingungan, lalu ia menolak naskah apa saja yang datang ke mejanya, pada hari itu ia dongkol. Penolakan kecil adalah bagian dari proses perkembangan.
Tetaplah memiliki tekad yang membara. Jangan berharap memperoleh imbalan yang cepat pada awal karier.
"Pada awal karier penulisannya, saya menulis 7 tahun di media Cendarawasih Pos dan terikat dan saya berpikir saya harus terlepas dan melakukan hal yang lebih,"katanya.
Menurut dia, menjadi seorang Jurnalis adalah profesi yang sangat mulia dan memberkati, sebab bisa menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Lanjut dia, yang paling penting adalah bisa memberikan dampak lewat tulisan yang ditulis.
“Hari ini saya merasa senang, sebab bisa hadir juga berbagi motivasi dan harapan kepada teman-teman PAM GKI Jemaat Siloam Waena,”ujarnya.
"Kita harapkan teman-teman Persekutuan Anak Muda (PAM) GKI Jemaat Siloam Waena bisa terus memacu dirinya di bidang jurnalistik,"katanya.
Robertus berpesan kepada seluruh anggota PAM GKI Jemaat Siloam Waena yang telah mengikuti pelatihan jurnalistik, agar terus memacu diri dengan mengembangkan dirinya di bidang jurnalistik.
Roberthus yang juga dosen luar biasa Antropologi itu menegaskan, jangan pernah bosan atau marah ketika tulisannya di kritik dan dikoreksi.
“Tentu saya sangat apresiasi hal ini, sebab membangun literasi menulis, terutama di bidang jurnalistik merupakan tanggung jawab bersama,"ujarnya.
Menurut dia, sehingga pelatihan semacam ini menurut dia sangat bermanfaat bagi anak-anak muda, terutama yang ada didalam lingkungan gereja juga masyarakat.
"Menulis membuat kita memiliki relasi sesuai dengan berkat-berkat yang Tuhan berikan bagi setiap kita,"katanya.
Roberthus menambahkan, dengan banyak relasi utamanya punya "modal sosial."
Editor : Musa Abubar