Belajar Dari Kain, Jangan Miliki Sifat Iri Hati Dalam Hidup

J
Junilius Yeheskiel Intapai
29 January 2024, 13:28 WIT
740 Kali Dibaca
BAGIKAN:
Buletin Siloam, Jayapura - Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Siloam Waena,Yabansai,Kota Jayapura,Papua diajak agar jangan memiliki sifat iri hati dalam hidup dan kehidupan sehari-sehari seperti Kain 

Hal itu disampaikan pendeta Jemaat GKI Siloam Waena, Yosina Redjauw melalui khotbahnya pada Ibadah Minggu, 7 Januari 2024. Pembacaan Alkitab yang diangkat kala itu dalam Kejadian 4:1-16 

Yosina mengatakan, Kain dan Habel adalah masing-masing anak pertama dan kedua dari pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa. Mereka dilahirkan setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa.

Bisa dilihat dalam Kejadian pasal 4. Ketika dewasa, Habel menggembalakan ternak kambing domba, sementara Kain seorang petani. 

Dalam khotbah, Yosina menyebut, Kain menjadi pelaku kriminal pertama dalam sejarah yang melakukan pembunuhan. 

Lanjut Yosina, kenapa dia membunuh saudaranya sendiri? Apakah ada kebencian yang mendalam? Tidak! Kain menjadi marah, sekalipun mereka berdua bersama-sama memberikan persembahan kepada Allah, tetapi Allah mengindahkan persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain. 

Kenapa Kain begitu marah? Persembahan kepada Allah seharusnya adalah satu hal yang indah. Tidak seorangpun yang memaksa dia untuk melakukannya. Dia melakukannya dengan sukarela. 

"Ada orang berkata bahwa persembahan Kain itu tidak baik, makanya Allah tidak mengindahkannya, tetapi tidak ada dasar Alkitabiah untuk perkataan semacam itu. Alkitab tidak berkata bahwa persembahan Kain itu tidak baik atau kualitas persembahannya buruk,"kata Yosina.

Yosina menyebut, Alkitab hanya mengatakan Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah kepada Tuhan. Ia telah memilih hasil tanah yang terbaik dan mempersembahkannya kepada Allah. 

Mungkin setelah memetiknya dia mencucinya lalu membawanya di punggungnya, dan berjalan untuk jarak yang jauh. Kemudian tiba di tempat orangtuanya biasa memberikan persembahan kepada Allah. 

Lalu, dia meletakkan dan mengatur persembahan itu dan mempersembahkannya. Namun sangat mengejutkan, Allah tidak mengindahkannya. 

"Mungkin Kain berkata pada diri sendiri, “Ya Tuhan, aku sangat baik pada-Mu, aku mempersembahkan yang terbaik kepada-Mu dengan bersusah payah. Engkau seharusnya memujiku. Pada akhirnya Engkau malah tidak mengindahkannya,"ujar Yosina.

Tiba-tiba dia menjadi sangat marah. Sebenarnya dia marah terhadap Allah, tetapi dia meluapkan kemarahannya kepada Habel, adiknya.

"Apakah kita juga memiliki sikap seperti ini ketika kita datang kepada Allah? Ya, Allah, aku percaya pada-Mu, memohon Engkau melindungi dalam hal ini dan itu,"kata Yosina.

Namun ketika Allah tidak melindungi, kata Yosina, malah sebaliknya harus berhadapan dengan sakit penyakit, mengalami kemunduran dalam hidup dan pekerjaan kita atau orangtua atau istri kita dalam keadaan yang gawat sampai mungkin mereka menghadapi kematian dan sebagainya. 

"Apakah saat kita menghadapi semacam kesialan di dalam hidup kita, kita akan mulai menggerutu? Oh, Tuhan, aku senantiasa mencintai-Mu,"ujarnya. 

"Aku memberikan persepuluhan dan melayani dengan penuh semangat, kenapa Engkau mengizinkan semua hal ini terjadi padaku? Kenapa Engkau tidak melindungiku? Aku berdoa begitu lama bahkan berdoa puasa, seluruh jemaat berkumpul bersama untuk berdoa, kami berdoa dengan meneteskan air mata, bahkan aku sudah memberikan segalanya, kenapa Engkau tidak mendengar? Dan sama seperti Kain kita mulai menjadi marah,"kata Yosina dalam khotbahnya.

Disela-sela khotbah, Yosina mengajak jemaat belajar dua hal, pertama semua yang dipersembahkan kepada Allah, apakah itu doa, atau uang, bahkan mempersembahkan seluruh keberadaan manusia untuk melayani Dia.

"Kita berpikir kita sudah mempersembahkan yang terbaik, tetapi jangan berpikir bahwa Allah harus menerimanya. Allah mungkin saja tidak menerimanya. Kita memilih Allah maka Allah juga memilih kita. Dan Allah memiliki otoritas untuk menentukan keputusan akhir,"katanya.

"Kedua, harus belajar tentang apa sikap yang seharusnya kita miliki di hadapan Allah. Kain berpikir, aku telah mempersembahkan yang terbaik untuk Allah,"ujarnya.

Jadi, engkau harus menerimanya. Sikap seperti ini, menjadikan Allah sebagai hamba. Dia adalah Allah. Dia memiliki otoritas untuk menentukan keputusan akhir. 

Tentu saja, Dia bukanlah Allah yang tidak masuk akal dan lalim. Yang entah Dia suka atau tidak suka tergantung suasana hatinya. 

Bergantung pada suka atau tidaknya Dia. Dia bukanlah Allah yang seperti ini. Ada alasannya kenapa Dia tidak menerima persembahan Kain. 

"Kita akan melihat hal ini ketika kita mempelajari karakter Habel. Singkatnya kita harus tahu: Allah adalah Allah, kita tidak dapat memberi perintah kepada Dia,"

"Kita harus takut akan Dia di dalam Alkitab, entah itu nabi di perjanjian lama maupun para rasul di perjanjian baru, mereka semua mengajarkan pada kita bahwa umat-umat Allah harus takut akan Allah,"

Apa itu takut? Tentu saja, rasa hormat. Manusia tidak boleh meminta Allah untuk datang dan pergi semau kita. Sederhana-nya adalah, ketika Anda bertemu dengan pemimpin sebuah negara, dengan sikap seperti apakah Anda akan berbicara kepadanya? Allah adalah raja segala Raja, Tuhan di atas segala tuan, maka manusia terlebih lagi harus takut akan Dia. 

"Namun sering kali kita tidak memperlakukan Allah sebagai Allah. Kita menjadikan-Nya seorang hamba. Jadi, kita berpikir bahwa kapan saja kita meminta sesuatu, Dia harus memberikannya kepada kita. Jika tidak, kita akan menggerutu dan bertanya, Kenapa Dia tidak memberikannya? Berarti Dia bukan Allah yang benar,”kata Yosina. 

Dengan sikap seperti ini, kata Yosina, manusia tidak akan pernah dapat bertemu dengan Allah. Dan tidak akan pernah mengalami Dia. 

"Bapa ibu, kita belajar menghargai beberapa hal yang paling berharga yang nyata adalah nafas kehidupan, firman Tuhan Hari ini mengajarkan kita untuk memberikan yang terbaik Kepada Tuhan,"ujarnya.

"Yang terakhir dari bagian ini menjadi nasihat untuk kita tentang adik dan kaka, kita terus mengotrol diri kita agar kita tidak mudah emosi yang dapat merugikan orang lain dan juga kita,"katanya.

Yosina menambahkan, tugas manusia adalah menyatakan cinta kasih Tuhan Bagi dunia, membuka hatilah bagi cinta Tuhan, bagi sesama agar tidak ada iri hati dan dendam, agar hidup manusia berkenan kepada Allah.

Editor : Musa Abubar
TAGS: #Renungan #GkiSiloamWaena
Cari Warta Lain
Artikel Terkait
Pelayanan Digital

Terus bertumbuh dalam iman melalui konten digital eSiloam.