Belajar Dari Ayub, Kasih Karunia Allah Menyertai Dalam Penderitaan

S
Samuel Warpur
13 February 2024, 08:38 WIT
753 Kali Dibaca
BAGIKAN:
Buletin Siloam, Jayapura - Warga Jemaat Gereja Kristen Injil Siloam Waena, Kota Jayapura, Papua belajar menyadari kasih karunia Allah dalam penderitaan 

Ajakan itu disampaikan penatua F. Derwin Sitorus saat memimpin ibadah subuh, Minggu (11/2/2024) sekira pukul 06.00 WIT.

Mengawali khotbah, Derwin mengatakan kasih karunia Allah selalu menyertai Ayub dalam penderitaan.

Untuk bertumbuh didalam iman, memperoleh kekuatan dari Tuhan. Derwin mengajak mengajak jemaat mengucap syukur kepada Tuhan atas 169 tahun injil masuk di Tanah Papua yang baru saja dirayakan.

"Saat ini kita memasuki Minggu kesengsaraan Tuhan Yesus yang pertama,"katanya.

Kata derwin mengawali khotbahnya,minggu pagi, 06:00 WIT, 11 Februari 2024, dalam Pembacaan Ayub 10 : 1 - 22.

Tema khotbah yakni pemberdayaan  Tuhan dalam penderitaan Ayub. Bagaimana Ayub melalui penderitaan itu diberdayakan oleh Allah, tentu ini sesuatu yang mustahil bagi manusia.

"Bapak ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, pembacaan kita disaat ini diawali dengan tuduhan Ayub bahwa Allah berperkara dengannya,"ujarnya.

Masih dalam khotbah, Derwin menjelaskan Ayub berperkara karena penderita yang dialami-nya cukup lama dan seolah tak kunjung berakhir.

"Ayub menunjukkan keputusasaanya dan kekecewaannya kepada Tuhan bisa dibaca di Ayub 10:1,"katanya.

Selanjut di ayat 18 yang menyatakan "mengapa engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan, lebih baik aku binasa sebelum orang melihat aku."

Derwin mengatakan dalam khotbahnya, Ayub menyesal mengapa ia dilahirkan ke dunia tidak hanya menanggung penderitaan.

Ayub juga menganggap bahwa Tuhanlah Yang menindasnya bahkan menuduhnya nya telah berkompromi serta mendukung orang fasik.

"Kita juga sering berbuat seperti Ayub dengan mengatakan Tuhan mengapa kau izinkan hal ini terjadi, mengapa orang fasik itu malah engkau berkati, itulah tuduhan tidak langsung yang kita lontarkan kepada Tuhan,"ujarnya.

Menurutnya, tidak hanya Ayub bukankah, Yusuf Sebelum menjadi penguasa di Mesir yang menolong keluarga dan bangsanya harus mengalami penderitaan berat untuk menggenapi rencana  indah Tuhan.

Lanjut dia, ada langkah dan persiapan terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang terbaik tentu tidak terlepas dari proses.

"Barang yang awalnya murah dan tidak bernilai dapat menjadi berharga dan bernilai setelah melewati proses pengerjaan yang panjang,"katanya.

"Proses ini tentu membutuhkan waktu dan beberapa tahap tertentu sampai benda itu menjadi sempurna,"ujarnya.

Derwin menyebut, hidup juga tidak terjadi secara instan tetapi melalui proses untuk menghasilkan kehidupan yang sempurna sehingga Tuhan kerap kali memakai ujian hidup sebagai cara untuk membentuk hidup manusia.

"Pencobaan yang kita alami yaitu pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan kita dan dia akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya,"katanya.

Walaupun Ayub mengalami penderitaan yang luar biasa tetapi ia masih hidup dan Ayub mengartikan itu sebagai kasih karunia Allah baginya bahwa Tuhan memelihara dan menjaganya.

"Bapak ibu dan saudara yang dikasih Tuhan Yesus Kristus disini kita lihat ada suatu keluhan yang jujur dari seorang manusia yang sedang bergumul berat,"ujarnya.

"Dari kehidupan Ayub kita melihat bahwa Allah mempersilahkan umatnya untuk jujur dihadapannya, itu justru seperti membuka lebar luka yang sedang kita alami supaya Allah dapat memulihkannya,"katanya.

Derwin mengatakan, berkat yang melimpah tidak membuat Ayub sombong dan sebaliknya pergumulan yang teramat berat tidak juga meruntuhkan kesetiaannya kepada Tuhan. Ia tetap setia sampai akhir dalam suka maupun duka.

Satu rahasia kesetiaan Ayub kepada Allah yakni ia syukuri dan yakini Allah menjaga hidupnya dan nyawanya. Ayub meyakini bahwa kebahagiaan yang sempurna adalah ketika menyadari kasih karunia yang Tuhan yang luar biasa melalui kehidupan.

"Disaat ini kita belajar untuk menyadari karunia Allah dalam kehidupan kita dengan berkat yang melimpah prestasi yang diraih,"ujarnya.

"Jangan sampai kita lupakan bahwa semuanya itu adalah karunia Tuhan
begitu juga saat badai pergumulan datang ketahuilah bahwa Allah memelihara kita,"katanya.

"Marilah kita juga hadapi tantangan apapun yang terjadi didalam kehidupan kita membuat kita bertumbuh didalam iman dan memperoleh kekuatan dari Tuhan,"ujarnya.

Dia menambahkan, yang menjadi bagian manusia untuk melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki untuk dikerjakan.

Editor : Musa Abubar
TAGS: #Renungan #GkiSiloamWaena
Cari Warta Lain
Artikel Terkait
Pelayanan Digital

Terus bertumbuh dalam iman melalui konten digital eSiloam.