AMNESTI KORUPSI: Mari Belajar Dari Yesus Kristus dan Zakheus

D
Dr. Agus Sumule
29 September 2024, 11:25 WIT
549 Kali Dibaca
BAGIKAN:
Buletin Siloam, Jayapura -Apa yang harus dilakukan supaya praktek korupsi di Indonesia bisa diberantas dari atas ke bawah dan sebanyak mungkin uang rakyat bisa dikembalikan ke kas negara?  Jawaban atas pertanyaan itu bisa kita peroleh dari kisah pertemuan Zakheus dan Yesus Kristus, serta  kebijakan Amnesti Pajak yang pernah dilakukan oleh oleh Pemerintah.

Alkisah, lebih dari 2000 tahun lalu, ada seorang Kepala Kantor Pajak yang hidup di Tanah Palestina.  Namanya Zakheus.  Tetapi, reputasinya tidak baik. Suatu ketika, Yesus Kristus berjalan melewati kotanya, dengan diiringi banyak orang.  Karena pendek, Zakheus harus memanjat sebatang pohon supaya bisa melihat Yesus.  Tetapi, Yesus memintanya segera turun karena sang Pembuat  Mujizat itu mau mampir di rumahnya.  Sejumlah pemimpin Yahudi tidak suka dengan keputusan Yesus untuk singgah di rumah Zakheus.  “Apa Dia tidak tahu betapa korupnya si pendek itu?” gerutu mereka.

Pertemuannya dengan Yesus adalah suatu peristiwa spiritual yang luar biasa bagi Zakheus.  Ia langsung berubah.  Dengan sungguh-sungguh, ia berjanji kepada Yesus, dan didengar oleh banyak orang yang hadir di rumahnya, begini: “"Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."  Zakheus tidak lagi menjadi pejabat pemerintah yang korup.

Ada baiknya kita belajar dari pertobatan Zakheus dan amnesti pajak.  Para pejabat publik, pengusaha dan aparatur pemerintah yang menyadari bahwa mereka memang bersalah karena pernah melakuan perbuatan korupsi – kepada mereka ini diberikan kesempatan untuk mengembalikan uang hasil korupsi itu kepada negara.  Mereka juga harus membuat komitmen yang sungguh-sungguh bahwa mereka tidak akan melakukan korupsi lagi.  Sebagaimana dalam amnesti pajak, mereka ini tidak perlu dihukum.  Demikian pula para koruptor yang sudah ditahan, biarlah mereka diberikan kesempatan untuk mengembalikan hasil curiannya.  Bukan tidak mungkin uang negara yang dikembalikan itujumlahnya akan jauh-jauh lebih besar daripada yang berhasil diselamatkan oleh para penegak hukum selama ini. 

Tetapi kalau mereka tidak mau bertobat, atau dengan cara-cara licik hanya membayar sebagian saja dari harta negara yang telah dicurin, serta tidak mau menggunakan kesempatan Amnesti Korupsi untuk mengembalikan dana/kekayaan negara yang dicurinya, maka orang-orang seperti ini harus dihukum seberat-beratnya.  Prinsip ini diadopsi dari ketentuan terhadap para pengemplang pajak yang tidak mau menggunakan kesempatan Amnesti Pajak yang diberikan oleh Pemerintah.

 Mudah-mudahan kita bisa menutup masa lalu kita yang kelam.  Moga-moga, melalui Amnesti Korupsi sebagaimana yang diusulkan dalam tulisan sederhana ini, kita, sebagai bangsa, bisa memperoleh ruang dan waktu yang cukup untuk menemukan dan mengembangkan cara-cara yang lebih efektif dalam memberantas dan mencegah tindak pidana korupsi, serta menyelamatkan sebanyak mungkin uang negara demi pembangunan anak cucu kita ke depan.

Pasti Bapak dan Ibu mendukung kandidat tertentu untuk menjadi kepala daerah.  Tidak apa.  Itu baik dan sah.  Tetapi jangan-jangan di hati kecil Bapak dan Ibu ada terbersit sedikit kesangsian tentang integritas kandidat itu.  Mungkin di hati kecil Bapak dan Ibu ada muncul pertanyaan: Apakah benar beliau ini bebas dari korupsi, atau bahkan tidak akan menjadi koruptor [yang lebih besar] nanti ketika sudah memimpin?  

Mudah-mudahan tulisan pendek yang pertama kali ditulis di tahun 2016 ini bisa menolong pribadi yang Bapak/Ibu dukung itu, bahwa kecuali yang bersangkutan bertemu dengan Yesus dan membuat komitmen terbuka, maka dia akan terus korup. (***)

TAGS: #Renungan #GkiSiloamWaena
Cari Warta Lain
Artikel Terkait
Pelayanan Digital

Terus bertumbuh dalam iman melalui konten digital eSiloam.